![]() |
| Petugas dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) memantau ketersediaan serta harga cabai di salah satu pasar di Kota Manado, Senin (21/9/2026). |
Langkah tersebut difasilitasi Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Utara bersama pemerintah daerah sebagai bagian dari upaya menjaga ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga cabai yang masih mengalami fluktuasi di sejumlah pasar di Sulawesi Utara.
Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi Sulut, Purwanto mengatakan, distribusi tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sulut maupun TPID Kota Manado dalam menjaga stabilitas pasokan pangan.
"Kalau kami dari Bank Indonesia Provinsi Sulut senantiasa mendukung upaya pemerintah, dalam hal ini TPID Provinsi Sulut maupun juga Kota Manado, dalam rangka penyediaan pasokan dan juga keterjangkauan harga," ujar Purwanto, Senin (21/9/2026).
Purwanto menjelaskan, pengiriman dari Probolinggo menjadi salah satu langkah untuk menambah pasokan cabai di tengah pergerakan harga yang masih fluktuatif.
"Ini yang tahap kedua, mudah-mudahan tentu kita akan nanti evaluasi sebagaimana tadi disampaikan oleh Kadis, apakah ini nanti melihat perkembangan harga dan juga melihat hal-hal yang perlu kita tambahkan dari kegiatan dua kali kegiatan FDP ini," katanya.
Pada tahap pertama, sebanyak 2,4 ton cabai telah didistribusikan ke Sulawesi Utara. Kemudian pada tahap kedua, jumlah yang didatangkan mencapai 2,5 ton.
"Kalau tahap pertama 2,4, yang hari ini ada tambahan menjadi 2,5 ton. Nanti kita evaluasi lagi," ujarnya.
Dengan demikian, total pasokan cabai yang didatangkan dari Probolinggo melalui dua tahap FDP tersebut mencapai 4,9 ton.
Evaluasi lanjutan akan melihat perkembangan harga cabai di tingkat pasar serta kebutuhan pasokan di daerah. Langkah ini juga menjadi bagian dari persiapan menghadapi periode Natal dan Tahun Baru yang umumnya diikuti peningkatan kebutuhan pangan masyarakat.
Selain menambah pasokan, pengendalian harga cabai dilakukan melalui pemantauan langsung di sejumlah pasar di Kota Manado.
Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kota Manado, Atto Bulo mengatakan, pemerintah daerah bersama tim terkait terus turun ke lapangan untuk melihat perkembangan harga dan ketersediaan berbagai komoditas pangan.
"Jadi, tim dari Pemerintah Kota Manado, selain yang TPID, juga ada Bapenas ya. Yang bersama-sama turun di setiap pasar-pasar yang ada di Kota Manado," katanya.
Menurutnya, pemantauan dilakukan secara rutin untuk mendapatkan gambaran kondisi harga di tingkat pedagang sekaligus memastikan ketersediaan pasokan.
"Tiap hari, di lapangan," ujarnya.
Cabai disalurkan ke empat kabupaten/kota dengan lima pasar.
Sehari sebelumnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Rahel Ruth Rotinsulu, menjelaskan, pasokan tambahan dari Probolinggo-Surabaya diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga harga cabai tetap terjangkau.
“Ini dalam rangka memang untuk menekan inflasi daerah dan juga memastikan pasokan pangan terpenuhi untuk masyarakat Sulut dengan harga yang terjangkau,” ujar Rahel, Minggu (20/9/2026)
Menurutnya, produksi cabai di Sulawesi Utara maupun sejumlah daerah sentra yang selama ini memasok kebutuhan daerah sedang mengalami penurunan.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap ketersediaan komoditas dan kemudian mendorong kenaikan harga di tingkat pasar.
Karena itu, pasokan dari luar daerah menjadi salah satu langkah untuk menambah ketersediaan cabai di pasaran.
Namun, masuknya cabai dari Probolinggo tidak dimaksudkan untuk menggantikan hasil produksi petani lokal.
“Dengan masuknya cabai ini, kita bukan kemudian menggantikan produksi petani lokal, tetapi kita hanya membantu pasokan agar kebutuhan masyarakat Sulut terpenuhi dengan harga yang terjangkau,” katanya.
Cabai yang didatangkan tersebut akan disalurkan ke empat kabupaten/kota dengan lima pasar. Untuk Kota Manado, distribusi dilakukan melalui Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan. Sementara wilayah lainnya mencakup Minahasa Selatan, Minahasa Utara, dan Kotamobagu.
Tambahan pasokan dari Probolinggo dan pemantauan harga secara rutin di pasar menjadi bagian dari langkah pengendalian pangan di Sulawesi Utara. Pemerintah bersama pihak terkait selanjutnya akan mengevaluasi kebutuhan tambahan pasokan berdasarkan perkembangan harga dan kondisi pasar.
(IN/AJL)
