Pengendalian Predasi Karang dari Ledakan Populasi Acanthaster Plancii dilakukan di Perairan Pulau Bunaken dan Siladen Pengendalian Predasi Karang dari Ledakan Populasi Acanthaster Plancii dilakukan di Perairan Pulau Bunaken dan Siladen - Media Independen

TERKINI

Iklan

Pengendalian Predasi Karang dari Ledakan Populasi Acanthaster Plancii dilakukan di Perairan Pulau Bunaken dan Siladen

indimanado.com
13 May 2020, 21:41 WIB Last Updated 2020-05-13T13:41:29Z

INDIMANADO.COM - Dimasa penutupan sementara kawasan Taman Nasional Bunaken dari aktivitas wisata alam dalam pandemic Covid-19, sejumlah dive center, masyarakat yang bekerja dibidang wisata bersama-sama dengan tim SMART Patrol Balai Taman Nasional Bunaken melakukan pengendalian predasi karang Acanthaster plancii di sejumlah titik penyelaman di perairan Pulau Bunaken dan Pulau Siladen.

Titik penyelaman antara lain, Muka Kampung divespot, Bunaken Timur divespot, Tawara divespot, Alung Banua divespot, Ron’s point divespot serta sekitar perairan Pulau Siladen.

Sebanyak 662 individu Acanthaster plancii atau yang sebih dikenal dengan sebutan Cost (The Crown of Thorns Starfish) atau Bintang Laut Mahkota Berduri berhasil diangkat dari perairan, rincian jumlah Cots yang diangkat dari Muka Kampung divespot 44 Ind, Bunaken Timur divespot 194 Ind, Tawara-Alban 167 Ind, perairan Siladen 257 Ind. Selanjutnya dilakukan penanganan berupa di kubur dan pembakaran untuk menghindari terjadinya regenerasi yang cepat oleh hewan tersebut.

Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I, Gatot Santoso sebagai penanggung jawab lapangan yang mengkoordinir pengangkatan Cots menyampaikan, perairan Pulau Bunaken memiliki luasan terumbu karang 531,4 ha dan perairan Pulau Siladen terumbu karang seluas 109 ha menjadi wilayah yang paling memungkinkan terjadinya ledakan populasi Cots, mengingat tutupan terumbu karang hidupnya cukup baik yakni 52,54%.

Cots adalah organisme yang umum ditemui pada ekosistem terumbu karang, hewan ini adalah salah satu jenis bintang laut raksasa dengan jumlah duri yang banyak sekali serta merupakan hewan pemakan polip karang. Pada beberapa literatur mencatatkan dalam keadaan normal artinya jumlah individu yang dianggap belum berbahaya merusak ekosistem terumbu karang berkisar antara 10-20 Ind/km, untuk satu individu Cots dapat memangsa 5-6 m/tahun tutupan karang.

Secara singkat terumbu karang merupakan sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga disebut zooxanthellae. Hewan karang yang unik ini disebut polip sebagai pembentuk utama terumbu karang yang menghasilkan zat kapur, selanjutnya zooxanthellae melakukan fotosintesis yang berguna untuk hewan karang. Sistem pemangsaan Cots adalah dengan mencengkeram dan menutupi permukaan koloni karang, nampak kasat mata kerusakan karang akibat dari pemangsaan adalah warna karang yang memutih.

"Kegiatan selama 3 hari sejak tanggal 13 - 14 Mei, melibatkan beberapa dive center, kami bagi dalam beberapa titik dan dijadwalkan dalam waktu berbeda. Selama proses pengendalian kami lakukan secara manual dengan mengangkat hewan Cots secara hati-hati dari perairan, hal ini menghindari pecahnya telur dalam tubuh hewan tersebut yang justru akan menimbulkan ledakan populasi, bahkan bilamana tubuhnya terbelah menjadi 2 bagian, hewan ini dapat bergenerasi menjadi 2 individu yang berbeda," tutur Gatot.

Disisi lain Kepala Balai Taman Nasional Bunaken, Farianna Prabandari menyambut apresiasi yang baik pada dive center dan masyarakat Bunaken atas kepeduliannya untuk bersama-sama mengendalikan predasi terumbu karang, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan dan himbauan Pemerintah physical distancing dalam pengangkatan Bintang Laut Mahkota Berduri.

"Untuk saat ini memang kami membatasi kegiatan yang bersifat berkumpul langsung, sehingga memberikan kesempatan secara bergiliran bagi dive center yang berpartisipasi dalam pengangkatan Cots dan membagi pada beberapa titik lokasi penyelaman," tutup Farianna.

(Subhan)
Baca Juga
Komentar

Tampilkan

Terkini

close