Wagub Kandouw: Partisipasi Gender di Sulut Tinggi, Tapi KDRT Masih Cukup Signifikan Wagub Kandouw: Partisipasi Gender di Sulut Tinggi, Tapi KDRT Masih Cukup Signifikan - Media Independen

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Wagub Kandouw: Partisipasi Gender di Sulut Tinggi, Tapi KDRT Masih Cukup Signifikan

12 March 2022 | 21:17 WIB Last Updated 2022-03-12T13:17:06Z
Foto bersama Wakil Gubernur Sulut, Drs Steven OE Kandouw, Dikretur Utama BSG, Revino Pepah, Rektor Unima Deitje Adolfin Katuuk, Kepala DP3AD Sulut, dr Kartika Devi Tanos Mars, Ketua Badan Kehormatan DPRD Sulut, Sandra Rondonuwu, Pdt Anita Tuelah, LSM Suara Parangpuan, Vivi George, Pemimpin Divisi Pengembangan BSG, Meiske Kumurur. Foto istimewa


MANADO, (indimanado.com) - Wakil Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Steven Kandouw buka Talkshow dengan tema “Lawan Tabu, Perempuan Berani Bersuara” di Atrium Manado Town Square (Mantos) 3, Sabtu (12/3/2022).

Di Talkshow yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Daerah (P3AD) Provinsi Sulut bersama PT. Bank SulutGo (BSG) dalam rangka Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day), Wagub Kandouw mengungkapkan bahwa partisipasi atau kesetaraan gender di Sulawesi Utara cukup tinggi dari semua aspek, baik politik, pemerintahan dan swasta.

“Sekarang ini di Sulut ada tiga kepala daerah perempuan. Belum lagi di Pemprov Sulut banyak pejabat perempuan. Pun di swasta, banyak perempuan yang menduduki jabatan strategis,” ujarnya.

Meski begitu, kata Kandouw, sekarang ini di Sulut masih banyak laporan terkait kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“KDRT yang dialami kaum perempuan relatif masih cukup signifikan. Artinya masih banyak kasus KDRT. Belum lagi di labeling labeling maupun ketidaksamaan terhadap hak-hak yang dialami kaum perempuan di Sulut,” bebernya.

Olehnya, mantan Ketua DPRD Sulut ini mengajak semua pihak untuk perangi dan antisipasi lebih lanjut kasus kekerasan perempuan dan anak.

“Bukan cuma tugas pemerintah tapi semua komponen masyarakat,” harapnya.

Ia pun mengapresiasi Dinas P3AD Sulut yang dapat menggelar Talkshow dengan tema “Lawan Tabu, Perempuan Berani Bersuara”.

“Kegiatan ini diharapkan resonansinya sampai ke kabupaten/kota. Itu penting untuk menyamakan persepsi dalam mencegah atau mengantisipasi terjadinya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, termasuk upaya pemberdayaan perempuan di sektor ekonomi,” terangnya.

Kandouw juga menyinggung sejumlah pemerintah daerah (pemda) kabupaten di Sulut yang belum mempunyai Dinas P3A.

“Ini tentunya juga harus jadi perhatian supaya 15 kabupaten/kota di Sulut semuanya ada Dinas P3A. Harapan saya, lewat kegiatan ini dapat mengendorse dan mendrive agar supaya budaya kita betul-betul kondusif gender, partisipasi hak dan lainnya,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas P3AD Sulut, dr Kartika Devi Tanos menjelaskan, talkshow tersebut bertujuan memberikan pemahaman bagi semua pihak dalam upaya meredam kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

“Tadi dalam talkshow semua narasumber memberikan pandangannya soal tema ‘Lawan Tabu, Perempuan Berani Bicara’,” tuturnya.

Menurutnya, era sekarang ini perempuan harus dituntut bersikap berani, baik berani bersuara dan berani berkreasi.

“Selain itu perempuan juga harus mandiri. Dinas P3A Sulut terus mendorong program-program pemberdayaan perempuan dalam hal ekonomi. Begitu juga respon terkait sejumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang dilaporkan,” imbuhnya.

Hadir dalam talkshow ini yakni Dikretur Utama (Dirut) BSG, Revino Pepah, Rektor Unima Deitje Adolfin Katuuk.

Narasumber pada Talkshow ini antara lain: Kepala DP3AD Sulut, dr Kartika Devi Tanos Mars, Ketua Badan Kehormatan DPRD Sulut, Sandra Rondonuwu, Dekan Fakultas Teologi IAKN, Pdt Anita Tuelah, LSM Suara Parangpuan, Vivi George, Pemimpin Divisi Pengembangan BSG, Meiske Kumurur dan Sekretaris Ikatan Nyong Noni Sulut, Felix Palenewen. (*/alfa jobel)
CLOSE ADS
CLOSE ADS
close