Anniversary MM-HH, Maurits Mantiri Berharap 2 Tahun Ada Titik Standing Stone Bagi Mereka untuk Melompat Tuntaskan Janji-janji Anniversary MM-HH, Maurits Mantiri Berharap 2 Tahun Ada Titik Standing Stone Bagi Mereka untuk Melompat Tuntaskan Janji-janji - Media Independen

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Anniversary MM-HH, Maurits Mantiri Berharap 2 Tahun Ada Titik Standing Stone Bagi Mereka untuk Melompat Tuntaskan Janji-janji

2 April 2023 | 22:03 WIB Last Updated 2023-04-27T22:46:30Z

BITUNG, (Indimanado.com) - Puncak Anniversary 2 tahun kepemimpinan Ir. Maurits Mantiri MM sebagai Walikota Bitung dan Hengky Honandar SE sebagai Wakil Walikota Bitung di gelar di Lapangan Kantor Walikota Bitung, Jumat (31/3/2023)

Ibadah syukur diiringi doa dari para tokoh lintas agama, serta parade perangkat kerja daerah serta trofi, piagam penghargaan yang diraih Kota Bitung di arak sebagai wujud hasil kerja 'malendong' (kolaborasi), dan sebagai pemicu akselerasi kerja Pemkot Bitung dalam mengemban tugas dan tanggung jawab kedepan untuk terus membangun serta melayani Kota Bitung.


Dalam sambutannya, Walikota Maurits Mantiri didampingi Wakil Walikota Hengky Honandar, dari atas panggung utama menyampaikan rasa syukurnya sembari mengungkapkan kalau pekerjaannya belumlah selesai.

"Kami tentu saja berbahagia saudara-saudara, karena panjang lebar sudah kami jelaskan tentang pembangunan ini, walaupun kami berdua bersepakat ini belum selesai! masih sementara dibenahi," ungkap Walikota Maurits.


Ia pun memberikan sebuah ilustrasi guna menggambarkan maksudnya. "Contoh praktis, yang kecil - kecil, BPK pernah menyampaikan kepada kami begini, kalau kami menilai, sehat itu, jantung sehat, (ilustrasi manusia) ginjal sehat, paru-paru sehat, semua unsur - unsur vital sehat, tapi kalau ada panu, semua buyar! atau ada kudis semua buyar! Kalau panu, tetap nyanda (tidak) ganteng, tetap nyanda cantik," kutip Walikota Maurits Mantiri.

Sehubungan dengan tandem kepemimpinannya bersama Sang Wakil Walikota, Hengky Honandar, Walikota Maurits mengibaratkan itu sebagai Seni, "makanya walaupun torang sibuk dengan urusan -urusan serius, tapi jangan sampai melupakan juga tentang seni. Seni itu penting, kenapa? Karena Seni ini mampu melembutkan batu, itu kata pujangga," ucap Sang Walikota.


Ternyata Seni yang dimaksud Walikota adalah Seni menjaga keseimbangan dan kekompakan dalam memimpin.

"Karena ini semua harus torang kerjakan secara komprehensif, tak boleh ada yang berat sebelah. Kami berdua tugasnya menjaga keseimbangan," ucap Walikota.

Seni dalam menjaga keseimbangan itu diperlukan, mengingat waktu bekerja kepemimpinan MM-HH untuk periode kali ini, hanya tersisa satu setengah tahun lagi, sehingga membutuhkan akselerasi untuk mengeksekusi semua janji - janji kampanye MM-HH. "Karena itu kami berharap 2 tahun ini, ada titik standing stone bagi kami untuk kami melompat. Kalau berlari berjalan tidak cukup, harus mulai melompat, karena waktu torang dua tinggal satu tahun setengah. Satu tahun setengah ini, harus kita tuntaskan janji - janji kampanye kami yang sudah di catat oleh DPRD, dibuktikan dengan peraturan daerah, justifikasinya peraturan daerah. Kalau kami tidak tuntaskan, DPRD akan menggugat kami dan rakyat akan menggugat kami," ucap Walikota yang baru saja genap berusia 58 tahun itu.


Maurits Mantiri juga mengungkapkan, dalam menjalankan kepemimpinannya, ada banyak pihak yang ikut berkontribusi, "karena itu, kami bukan manusia hebat, kami bukan manusia super, yang dengan 'simsalabim' bisa menuntaskan pekerjaan tanpa mereka -mereka yang hebat ada dibelakang kami. Forkopimda yang hebat. Mereka kuat sekali. Setiap ada masalah, selalu mereka telepon. 'Pak Wali Pak Wakil, apa yang dapat kami bantu?' Rupa rupa yang mereka bisa buat," ujar Walikota.

Sehubungan dengan keheterogenan masyarakat Kota Bitung, Walikota juga mengungkapkan betapa sentralnya peran para tokoh agama dalam menjaga Kota Bitung agar tetap kondusif, aman dan nyaman didalam perbedaan. "Kepada tokoh-tokoh agama, hebat-hebat juga dorang (mereka). Mereka yang memberi contoh kepada kita arti daripada persatuan."


"Malendong (kolaborasi) adalah perintah TUHAN. Karena disana mengandung unsur persaudaraan dan persekutuan. Coba tanya pa (sama) tokoh agama. Kalau menyangkut persatuan dan persekutuan akan menghasilkan persaudaraan," lanjut tokoh yang diberi gelar Bapak Moderasi beragama ini.

Walikota Maurits juga menegaskan bahwa Kota Bitung dimiliki oleh semua warga Bitung, dan semua memiliki kesempatan yang sama tanpa memandang suku atau agama tertentu.

"Kita harus berpikir lebih universal lagi. Bahwa tentang hidup disaat ini, dinilai orang tentang karakter yang baik dan yang buruk, biar jelas siapa yang bekerja dengan baik, siapa yang bekerja dengan buruk, itulah penilaian kita. Jangan dinilai dari suku, jangan dinilai dari agama, karena semua itu hanya unsur nilai-nilai yang dibuat manusia saja," tegas Mantiri.


Walikota Maurits dan Wakil Walikota Hengky menyadari bahwa ada banyak 'asa' yang diharapkan warga Kota Bitung atas kepemimpinan mereka. Namun karena doa dan dukungan dari tokoh agama dan masyarakat, Walikota yakin dan percaya mereka berdua akan tetap kuat. Terutama dalam menghadapi kritikan, Walikota memandang hal tersebut sebagai motivasi untuk bekerja lebih baik lagi.

"Setiap kali buat yang terbaik, tetap ada saja yang bilang, Belum terbaik! bagi kami terima kasih tidak apa-apa, karena setiap kritik bagi kami itu adalah cara mereka memperbaiki kami lebih baik lagi dari yang sebelumnya. Kami manusia biasa bukan manusia super, kami bukan manusia yang dapat terbang karena kami tidak memiliki sayap, tapi pikiran kami, cara kami bisa seakan - akan kami terbang, walaupun sebenarnya kami hanya merayap," ucap Walikota.


Mengingat hal itu, Walikota yang juga melayani sebagai seorang Penatua dan Ketua Komisi Diakonia Sinode GMIM, dan juga sebagai Ketua Komisi P/KB Sinode GMIM, Ia yakin dan berharap bahwa kasih karunia TUHAN bisa memberikannya hikmat dan kuasa yang bisa mengalir kepada semua masyarakat Kota Bitung, sehingga menghasilkan energi yang luar biasa dalam terus melayani Kota Bitung.

Menarik, usai memberikan kata sambutannya di panggung utama, rinai hujan yang turun saat itu, seolah memberi tanda untuk kedua pimpinan Kota Bitung itu untuk berjalan sepayung berdua, berdampingan menuju tribun kehormatan didepan ribuan pasangan mata dan sorotan kamera para jurnalis, terlihat seolah alam berskenario untuk keberlangsungan 2 Pucuk Pimpinan kota Bitung ini.

Terpantau dilokasi dan media sosial, ratusan papan ucapan selamat dan doa disematkan untuk duet pimpinan Kota Bitung ini. (Ido Tobing/Advetorial)
CLOSE ADS
CLOSE ADS
close