Dalam forum The 41st Heads of ASEAN Power Utilities/Authorities (HAPUA) Council Meeting di Labuan Bajo, Darmawan mengungkapkan bahwa Indonesia tengah menjalankan transformasi besar untuk memperluas bauran energi bersih. Ia menjelaskan bahwa hingga 2034 Indonesia akan menambah 69,5 gigawatt (GW) kapasitas pembangkit baru, di mana 76 persen di antaranya berasal dari energi baru terbarukan (EBT).
Meski memiliki potensi EBT yang sangat besar, Indonesia masih menghadapi tantangan teknis berupa ketidaksesuaian antara lokasi sumber daya terbarukan dengan pusat permintaan listrik. Karena itu, Darmawan menilai bahwa interkoneksi listrik lintas negara menjadi solusi strategis untuk memastikan energi bersih dapat dibagi, diseimbangkan, dan dimanfaatkan secara optimal.
“Jaringan listrik interkoneksi ASEAN memungkinkan kita berbagi energi, menyeimbangkan sistem, dan memperkuat ketahanan energi kawasan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembangunan ASEAN Power Grid tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kerja sama serta kolaborasi.
“Kita tidak akan mampu menanggungnya sendirian. Satu-satunya jalan ke depan adalah kolaborasi. Kolaborasi strategi, kolaborasi inovasi teknologi, kolaborasi investasi, kolaborasi domestik, regional, dan internasional,” pungkasnya.
PLN, lanjutnya, membuka ruang seluas-luasnya dalam menjalin kerja sama dalam mewujudkan ASEAN Power Grid. (*)
