indimanado.com, SULUT - Kendati sudah menerima berbagai penghargaan dari beberapa Kementrian bahkan lembaga, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dibawah kepemimpinan Gubernur Olly Donfokambey dan Wagub Steven Kandouw (ODSK) terus berbenah.
Komitmen dan tekad yang tujuannya untuk mensejahterakan masyarakat ini, tegas disampaikan Wagub Steven Kandouw pada acara kepatuhan standar pelayanan publik dari Ombudsman, Rabu (13/12/2017) di ruang CJ Rantung, Kantor Gubernur.
Sebelumnya dari hasil penilaian Lembaga Ombudsman menempatkan Sulut pada zona merah atau predikat kepatuhan rendah dalam memenuhi standar pelayanan publik. Namun, orang nomor dua Sulut ini menanggapi dengan apresiasi.
"Kami mengapresiasi ombudsman yang telah memberikan penilanian dan saran terhadap pelayanan publik. Karena ini mutlak bagi kita semua untuk mematuhi Undang-Undang (UU)," ungkap Kandouw.
Lanjutnya, tahun 2017 sesuai amanat ada banyak kewenangan Kabupaten/Kota yang dilimpahkan ke Provinsi.
"Yang paling dahsyat untuk bidang pendidikan dimana konsekuensinya Kami mengeluarkan dana Rp 400 miliar, tapi inilah komitmen pak Gubernur Olly, bahkan Sulut merupakan Provinsi pertama yang membayar kewenangan ini," tandasnya.
Terlepas dari itu, Pemprov Sulut menerima penilaian dari ombudsman terhadap Pemprov Sulut.
"Untuk kedepannya akan dievaluasi dan melakukan introspeksi," kata Wagub.
Namun, Wagub Kandouw menjelaskan terkait surat resmi yang ditujukan ombudsman kepada Pemprov Sulut sudah sesuai protap.
"Saya rasa kami sudah sesuai protap.Karena kalau ada surat dan undangan langsung, kami segera meresponnya apalagi itu surat dari ombudsman," pungkas Mantan Ketua DPRD Sulut ini, sembari berharap kedepan surat ombudsman harus resmi dan jelas.
Untuk diketahui hasil penelitian Lee Kuan Yew school of public policy dalam publikasi Asia Competitiveness Institute (ACI) menempatkan Sulut pada posisi 4 government and institutional setting ranking.
Tahun ini juga, Kementerian PU-PR membetikan penghargaan kepada Pemprov Sulut karena telah berkontribusi dalam memberikan kemudahan layanan perizinan dalam pembangunan perumahan.
Kemudian Penghargaan Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) dari Kemendagri karena berhasil menjamin kebebasan hak sipil.
Selanjutnya penghargaan Anugerah Kita Harus Belajar (KIHAJAR) 2017 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang menunjukkan kepedulian dan komitmen terhadap pengembangan Teknologi Informasi dan komunikasi (TIK) untuk dunia pendidikan dan kebudayaan
"Dan terkait pelayanan publik, Kami berkomitmen tahun depan harus lebih baik dari tahun ini dan diyakini akan tuntas bersama.Namun, no body perfect," tutup Wagub.
Sebelumnya Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Sulut Helda Tirajoh mengatakan setiap tahun sejak dari 2013 terus dilakukan penilaian memberikan sarana pelayanan publik.
"Waktu lalu Ombudsman ingin mengadakan pertemuan dengan Pemprov Sulut tapi tidak sempat bertemu, bahkan kami menyurat resmi langsung tapi tidak diberi kesempatan," katanya.
Ditambahkannya, sistem penilaian ombudsman berbeda dengan instansi lain, dimana ombudsman turun langsung di lapangan untuk mewancarai setiap SKPD.
"Hal ini sesuai dengan UU 25 Tahun 2009 yakni menerima pengaduan, memberi saran perbaikan, mengevaluasi terhadap instansi publik serta kepatuhan yang semata-semata untuk pelayanan publik," tandasnya.
"Ombudsman juga sebagai penyelenggara publik, menyusun pelayanan publik juga memberikan pertanggung jawaban terhadap pelayanan yang diawasi seperti barang jasa dan administrasi," ujarnya menambahkan parameternya ada di dasar hukum.
"Sedangkan sanksinya dari teguran tertulis dan pemberhentian dengan tidak hormat.Tapi sebelumnya kami melakukan pemanggilan bersifat undangan disamping adanya akses kerahasian pelapor," jelas Tirajoh sembari menuturkan ketentuan pidana yang menghalangi pemeriksaan akan disanksi dua tahun penjara dan denda uang.
Diketahui kegiatan ini dihadiri pejabat Eselon 2 dilingkup Pemprov Sulut dan pihak Ombudsman.
(*/alfa jobel)