indimanado.com, SULUT - Masyarakat di Sulawesi Utara (Sulut) perlu mewaspadai ancaman virus Difteri yang sudah mewabah di sejumlah provinsi di Indonesia. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphteriae ini dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sulut, dr Debie Kalalo mengatakan, ancaman penyakit ini menjadi perhatian serius pihaknya untuk melakukan antisipasi.
"Kita sudah saling koordinasi bersama Dinkes di kabupaten/kota untuk melakukan sosialiaasi di puskesmas dan rumah sakit setiap daerah," kata Kalalo, Senin (11/12/2017) malam.
Dia menjelaskan, seperti diketahui Penyakit Difteri ini memiliki masa inkubasi 2-5 hari dan akan menular selama 2-4 minggu, memiliki gejala antara lain demam, batuk, sulit menelan, selaput putih abu-abu (pseudomembran), pembengkakan pada leher, sulit bernafas.
"Jika ada masyarakat atau anak-anak yang mulai mengalami gejalannya, diharapkan orang tua untuk secepatnya membawa berobat ke puskesmas dan rumah sakit terdekat," tutur Kalalo.
Penting itu dilakukan, karena kata Debie, penyakit ini cepat menular dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat.
"Memang penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi rutin yang lengkap atau imunisasi dasar pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 18-24 bulan dan usia SD," tukasnya.
Debie memaparkan, perlu diketahui jika penyakit Difteri menular dengan cara melalui droplet bersin dari orang yang menderita penyakit ini, melalui mainan yang sudah terkontaminasi bakteri ini, melalui kontak langsung terutama bila terdapat luka di kulit, dan melalui alat tidur yang sudah terkontaminasi bakteri ini.
"Ini yang mesti diperhatikan bersama, khususnya para orang tua untuk menghi dari penyebaran virus Difteri," paparnya.
Dia menambahkan, masyarakat tidak perlu terlalu panik akan penyakit ini, tetapi tetap waspada dengan melakukan pencegahan seperti memberikan imunisasi difteri pada bayi dan balita sesuai jadwal imunisasi rutin, serta anak dan remaja diberikan imunisasi ulangan saat kelas 1,2 dan 5 SD.
"Penyakit ini sangat beresiko terkena pada anak atau orang dewasa yang tidak mendapat vaksin difteri (imunisasi DPT, DT, Td). Intinya, mesti menjadi perhatian bersama," pungkas Kalalo.
(Tim/alfa jobel)
