Sulut Potret Kerukunan dan Tolerasi Indonesia Sulut Potret Kerukunan dan Tolerasi Indonesia - Media Independen

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Sulut Potret Kerukunan dan Tolerasi Indonesia

17 November 2021 | 21:26 WIB Last Updated 2021-11-17T13:26:39Z

MANADO, (indimanado.com) - Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) dikenal dan disegani dengan kerukunan antar umat beragama dan masyarakat yang toleran.

Hidup rukun, damai dan sejahtera itulah yang menjadi cita-cita seantero dunia.

Sulut merupakan salah satu daerah percontohan dalam hal kerukunan dan tolerasi.


Kerja keras Gubernur Sulut, Olly Dondokambey dan Wakil Gubernur Steven OE Kandouw patut diancungi jempol karena hingga saat ini, masyarakat Bumi Nyiur Melambai mampu menjaga, merawat dan mempertahankannya.

Dasar inilah sehingga Sulut menjadi tuan rumah Pekan Kerukunan Internasional dan Konferensi FKUB ke-VI se-Indonesia 2021.

Sinergitas pemerintah, tokoh agama, masyarakat, pers dan peran FKUB lah sehingga penyelenggaraan kegiatan yang merupakan suatu penghargaan ini sangat membanggakan.


Kegiatan dicanangkan oleh Gubernur Sulut Olly Dondokambey didampingi Wakil Gubernur Steven Kandouw.

Rencana penutupan akan hadir secara fisik “keynote speak” Wakil Presiden RI Prof. Dr. K.H Ma’aruf Amin, pada Senin (22/11/2021).

Sulut yang mempunyai masyarakat toleran, ramah atau smile people tetaplah bangun kebersamaan dan jaga kerukunan.

“Berdamailah dengan Tuhan, Berdamailah dengan Sesama, Berdamailah dengan Diri Sendiri dan berdamailah dengan Alam. Torang samua Ciptaan Tuhan,” ungkap Gubernur Olly saat menyambut para peserta Konferensi Nasional FKUB ke-VI se Indonesia dan Pekan Kerukunan Internasional yang digelar di hotel Sutan Raja Minahasa Utara, Rabu (17/11/2021).


Sebelumnya, Gubernur Olly juga menegaskan bahwa Sulut sejak tahun 1965 sudah punya forum BKSAUA. Dan pada 2016 pemerintah pusat membentuk forum FKUB.

“Melalui FKUB kita dapat bekerja sama sehingga setiap persoalan dapat ditangani bersama. Hal ini juga tak lepas dari peran tokoh agama dari Sabang sampai Merauke Miangas sampai Pulau Rote,” ucapnya.

Menariknya, Gubernur Olly menjelaskan bahwa saat menghadapi pandemi Pemerintah Provinsi Sulut melibatkan tokoh agama untuk menyalurkan bantuan.

“Pada waktu pandemi, bansos disalurkan oleh tokoh-tokoh agama melalui tempat ibadah seperti mesjid dan gereja. Tidak lewat struktur pemerintahan, yang jumlahnya mencapai 600 ribu KK yang terdampak,” tukasnya sembari menambahkan tantangan yang dihadapi ke depan semakin lebih terbuka. Itu artinya semua kejadian mudah dimonitor.


“Tidak ada rahasia lagi. Tugas pemimpin umat untuk mengantispasi hal-hal yang akan terjadi ke depan. Mari kita persiapkan untuk Indonesia menuju pintu emas,” tandasnya.

Sebelumnya, Staf ahli Menteri Laode Ahmad MSi yang mewakili Mendagri mengatakan bahwa nilai keanekaragaman suku, ras dan golongan menjadi Kebinekaaan dalam harmoni Indonesia.

“Nilai itu tetap relevan, harus dirawat dan dijaga. Perbedaan harus dimaknai karena banyak pendiri bangsa menekankan betapa pentingnya toleransi,” ujarnya.

Sebagaimana pidato Presiden Soekarno, masing-masing orang Indonesia dalam menjalankan kepercayaan, adalahbsaling menghormati di mana dalam sebuah negara setiap anak bangsa mendapat tempat yang sebaik baiknya,” tukasnya.

Ketuhanan, sambungnya bukan hanya dasar agama, tetapi memimpin ke jalan kebenaran, kejujuran dan kebangsaan.

“Dengan toleransi umat mempratikkan cakrawala kerukunan dan toleransi. Untuk itu, kebijakan yang ditetapkan daerah agar menghilangkan perbedaan,” sebutnya.

Sementara itu, Staf Ahli Kemenko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Didik Suhardi mengurai tentang
Gerakan Revolusi Mental yang merupakan prioritas Presiden RI yang dituangkan dalam Inpres Nomor 12 Tahun 2016, bahwa pembangunan manusia dan budaya, dimaksudkan agar terjadi perubahan, pola pikir, tindak dan perilaku.

“Butuh penanaman nilai-nilai peningkatan etos kerja, gotong royong dan integritas,” katanya.

Dipilihnya Sulut sebagai tuan rumah, kata Didik bukan hal yang biasa. Indikatornya karena Sulut masuk dalam indeks kerukunan 5 besar di Indonesia.

Dia berharap kebersamaan kerukunan dan keharmonaisan akan berlangsung semakin baik.

“Momentum ini, kiranya jadi pemantik dalam mengatasi permasalahan mendasar. Supaya tercipta situasi yang kondusif. Sebab konflik hanya akan mengganggu keberagaman,” sebutnya.

Kegiatan Konas turut dihadiri para peserta dari seluruh Indonesia, para gubernur, Walikota, bupati, jajaran FKUB, Kesbangpol Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakanmenag), Wagub Steven OE Kandouw, Ketua DPRD Sulut Fransiscus Andi Silangen, Bupati Minut Joune Ganda dan Ketua FKUB Sulut Pdt Lucky Rumopa.

Di penghujung pembukaan Konas, Gubernur Olly menerima penghargaan sebagai kepala daerah yang mampu menjaga dan merawat kerukunan.

Pada kesempatan itu juga, Gubernur Olly Dondokambey menerima cindera mata dari FKUB Sulawesi Tengah (Sulteng).

Cindera mata berbentuk plakat dan batu sojo, sebagai tanda lekatnya kerukunan serta apresiasi atas slogan Gubernur Olly yang dikenal dengan Torang Samua Ciptaan Tuhan.

“Inilah yang kami kumandangkan di Sulawei Tengah,” ungkap Wijaya Chandra mewakili FKUB Sulteng.

Pada sesi pembukaan, tepatnya sebagai penghormatan kepada peserta, acara disuguhkan dengan tarian Tetengkoren putra putri Minahasa Utara (Minut).

Tetengkoren adalah musik pukul berbentuk tabung bambu, yang juga merupakan alat komunikasi masyarakat di Bumi Nyiur Melambaikan, kebiasaan petani Minahasa saat melakukan aktivitas di kebun atau Mapalus.

(Advertorial Dinas Kominfo Sulut)
×
Berita Terbaru Update
close