![]() |
| Ruas jalan Kumelembuai–Malola. |
Sorotan tersebut mencuat dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) RKPD Kabupaten Minahasa Selatan Tahun Anggaran 2027 yang digelar di Desa Kumelembuai Dua, Kamis (29/1/2026). Sekretaris Desa Malola, Harli Pangkey, secara terbuka mempertanyakan volume dan kualitas pekerjaan jalan tersebut.
“Apakah hotmix senilai hampir Rp1 miliar panjangnya hanya sekitar 300 meter?” ujar Harli Pangkey di hadapan forum Musrenbang.
Tak hanya soal volume, kualitas pekerjaan juga menjadi perhatian serius warga. Harli menyebutkan, belum genap satu bulan sejak pengerjaan rampung, sejumlah titik jalan sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
“Belum sebulan dikerjakan sudah ada ruas jalan yang rusak. Panjang hotmix tidak seimbang dengan jumlah anggaran, bahkan jalannya bergelombang,” ungkapnya.
Meski menyampaikan kritik, perwakilan warga Desa Malola tetap mengapresiasi perhatian Bupati Minahasa Selatan Franky Donny Wongkar dan Wakil Bupati Brigjen Theodorus Kawatu, SIK, yang telah menjawab keluhan masyarakat terkait kondisi jalan yang rusak parah selama hampir enam tahun terakhir.
"Terimakasih untuk Bupati dan Wakil Bupati sudah memperhatikan keluhan masyarakat. Meskipun belum seluruhnya diperbaiki tapi kondisi jalan yang rusak berat sudah diperhatikan," katanya.
Ia berharap, ke depan perbaikan ruas Kumelembuai–Malola–Motoling dapat dilakukan secara menyeluruh. Pasalnya, jalur tersebut memiliki peran strategis sebagai akses utama mobilitas warga sekaligus jalur alternatif ketika ruas jalan utama Amurang–Modoinding terdampak longsor.
Namun disayangkan, dalam forum Musrenbang tersebut, keluhan warga terkait kualitas pekerjaan jalan tersebut belum mendapat tanggapan dari instansi teknis. Hal ini lantaran Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) tidak hadir dalam kegiatan Musrenbang RKPD Kabupaten Minahasa Selatan Tahun 2027 di Kecamatan Kumelembuai. (Tim SDR)
