Kolaborasi tersebut resmi ditegaskan dalam penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara TNI AL dan PLN di Markas Besar TNI AL Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (17/9).
Direktur Retail dan Niaga PLN, Adi Priyanto, mengungkapkan bahwa manfaat konkret sudah terlihat jelas dari pemanfaatan listrik darat ini. Dengan menggantikan genset berbahan bakar solar, kapal perang TNI AL kini dapat memangkas konsumsi solar hingga 56 persen saat bersandar di dermaga.
“Kami ingin menyampaikan penghargaan dan rasa hormat setinggi-tingginya kepada jajaran TNI AL, khususnya Koarmada II, atas kepercayaan yang diberikan kepada PLN untuk memberikan pelayanan khusus kepada kapal-kapal baru Koarmada II,” sambungnya.
Ia menjelaskan bagaimana PLN menyesuaikan layanan sesuai kebutuhan khusus armada laut. Bila rumah tangga biasanya dilayani dengan frekuensi 50 Hz dan tegangan rendah 220 Volt, maka kapal perang membutuhkan pasokan yang berbeda.
“Biasanya, PLN melayani tegangan rendah 220 Volt di rumah-rumah, kemudian 20 kV, dan juga 150 kV untuk pelanggan besar dengan frekuensi 50 Hz. Namun, kebutuhan kapal ini unik, dayanya besar, 1.500 kW, dengan tegangan 690 Volt serta frekuensi 60 Hz. Karena itu, PLN harus menyesuaikan pelayanan secara khusus di sini,” jelas Adi.
Ke depan, sinergi ini diharapkan menjadi pijakan untuk langkah yang lebih luas. PLN melihat elektrifikasi maritim sebagai bagian dari _roadmap_ transisi energi menuju _Net Zero Emissions_ 2060 atau lebih cepat. “Kolaborasi ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat pertahanan maritim Indonesia, sekaligus menjadi landasan kerja sama yang lebih luas di masa mendatang,” tutup Adi. (*)
