Konservasi Anoa di Sulawesi Jadi Bahasan Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Simpul Sulut Konservasi Anoa di Sulawesi Jadi Bahasan Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Simpul Sulut - Media Independen

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Konservasi Anoa di Sulawesi Jadi Bahasan Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Simpul Sulut

22 September 2023 | 07:58 WIB Last Updated 2023-09-22T05:11:53Z
Salah satu Anoa yang dirawat di Kawasan ABC. Foto Alfa J. Liando/indimanado.com

Manado, indimanado.com - Society of Indonesian Environmental Journalist (SIEJ) Simpul Sulut melakukan kunjungan ke Anoa Breeding Center (ABC) Manado, Kamis (21/9/2023). Kunjungan ini menjadi wujud kepedulian mereka terhadap upaya pelestarian anoa (Bubalus sp), hewan endemik Sulawesi.

Para jurnalis yang dipimpin oleh Koordinator SIEJ Simpul Sulut, Finda Muhtar, diterima oleh drh Afifah Hasna, dokter yang merawat anoa di ABC Manado.

“Saat ini di ABC Manado terdapat 11 ekor anoa yang terdiri dari 5 jantan dan 6 betina. Untuk anoa dataran rendah atau Bubolus depressiocornis sebanyak 9 ekor, dan anoa gunung atau Bubolus quarlesi sebanyak 2 ekor,” ungkap drh Afifah Hasna.

Jurnalis yang tergabung dalam SIEJ Simpul Sulut saat diskusi tim Anoa Breeding Center (ABC) Manado, Kamis (21/9/2023). Foto Alfa J. Liando/indimanado.com

Afifah menjelaskan, sejak berdirinya ABC Manado pada 5 Februari 2015, yang diresmikan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar, sudah terjadi 5 kelahiran bayi anoa dalam kondisi sehat. Bayi anoa pertama lahir pada 7 Februari 2017 dengan nama Maesa, sementara bayi anoa kedua lahir pada 8 November 2017 dengan nama Anara. Selanjutnya, bayi anoa ketiga, Deandra, lahir pada 25 Juli 2018, bayi anoa keempat, Raden, lahir pada 16 Januari 2023, dan kelima, Bahen, lahir pada 9 Juli 2023.

Drh Afifah Hasna, yang telah bekerja selama 2,6 tahun di ABC Manado, menjelaskan bahwa Raden lahir melalui operasi cesar, sementara Bahen lahir secara normal.

Kawasan ABC Manado merupakan hasil kerja sama antara Balai Penerapan Standar Instrumen Lingkungan Hidup dan Kehutanan (BPSILHK) Manado dengan Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulut dalam rangka melestarikan satwa langka seperti anoa.

Para jurnalis SIEJ Simpul Sulut saat memantau bersama tim ABC di kandang-kandang anoa di belakang kantor BPSILHK Manado. Foto Alfa J. Liando/indimanado.com

BPSILHK Manado berkomitmen untuk terus mengembangkan ABC Manado sebagai tempat pengembangbiakan anoa secara Eksitu. Hal ini mencakup standar kesehatan dan sarana prasarana untuk kesejahteraan anoa.

Kerja sama juga dilakukan dengan PT Cargill Indonesia-Amurang untuk mendukung pelestarian satwa endemik Sulawesi ini.

Para jurnalis SIEJ Simpul Sulut kemudian melakukan kunjungan ke kandang-kandang anoa di belakang kantor BPSILHK Manado. Beberapa anoa menunjukkan reaksi ketika didekati, dan drh Afifah Hasna menjelaskan bahwa beberapa ekor anoa menjadi agresif, seperti Rambo, ketika bayi anoa telah berusia 9 bulan sudah mulai menjauh dari induknya meski berada dalam satu kandang.

ABC Manado memainkan peran penting dalam upaya pelestarian anoa sebelum akhirnya dilepaskan kembali ke habitat aslinya. Selama ini, ABC Manado telah berhasil menjaga kesehatan anoa tanpa masalah serius, meskipun penyakit mulut dan kuku umumnya menyerang jenis satwa ini dan beruntung di ABC Manado masih terbebas dari penyakit tersebut.

“Diharapkan dengan adanya ABC Manado ini bisa menambah jumlah populasi anoa yang kini semakin berkurang,” ujarnya.

Jurnalis SIEJ Simpul Sulut bersama tim ABC di Kawasan kantor BPSILHK Manado. Dok. SIEJ Sulut

Diketahui, anoa (Bubalus sp.) adalah satwa endemik Sulawesi yang dilindungi oleh Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/12/2018 tentang Penetapan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. Anoa termasuk kedalam 25 satwa prioritas yang dilindungi dan ditingkatkan populasinya. Berdasarkan data IUCN Red List diperkirakan populasi anoa di seluruh wilayah Sulawesi tidak lebih dari 2.500 individu. “Untuk jumlah anoa yang berada di dalam penangkaran di seluruh Indonesia sebanyak 38 ekor,” ujarnya. Anoa juga digolongkan sebagai satwa terancam punah dalam IUCN Red List of Threatened Animal dan masuk ke dalam Appendix I CITES.

Koordinator SIEJ Simpul Sulut, Finda Muhtar, menekankan pentingnya pelestarian lingkungan dan perlindungan terhadap satwa langka. Dengan pemahaman yang komprehensif akan isu-isu lingkungan dan konservasi, para jurnalis diharapkan dapat mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan, termasuk melindungi satwa langka seperti anoa, yang sering menjadi buruan manusia. (Alfa Jobel)
CLOSE ADS
CLOSE ADS
close