Di Depan Makam F.J. Tumbelaka, Kerinduan 11 Tahun Taufik Akhirnya Tumpah Di Depan Makam F.J. Tumbelaka, Kerinduan 11 Tahun Taufik Akhirnya Tumpah - Media Independen

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Di Depan Makam F.J. Tumbelaka, Kerinduan 11 Tahun Taufik Akhirnya Tumpah

20 September 2026 | 23:03 WIB Last Updated 2026-09-20T15:03:45Z
Setelah 11 tahun, Taufik M. Tumbelaka kembali berdiri di depan pusara sang ayah, F.J. “Broer” Tumbelaka
Setelah 11 tahun, Taufik M. Tumbelaka kembali berdiri di depan pusara sang ayah, F.J. “Broer” Tumbelaka. Tangis haru mengiringi prosesi tabur bunga di TMP Nasional Kalibata, Jakarta.

JAKARTA, Indimanado.com – Hening menyelimuti Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Kalibata, Jakarta Selatan, Jumat (18/9/2026).

Di antara deretan pusara para pejuang bangsa, rombongan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara berjalan perlahan. Tidak banyak suara terdengar. Hanya langkah kaki dan suasana khidmat yang mengiringi prosesi ziarah menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-62 Provinsi Sulawesi Utara.

Gubernur Sulut Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus SE (YSK) bersama Wakil Gubernur J. Victor Mailangkay memimpin langsung ziarah dan tabur bunga tersebut. Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-62 Sulut yang jatuh pada 23 September 2026.

Namun, di balik agenda penghormatan kepada para pendahulu Sulawesi Utara itu, terselip sebuah kisah personal yang membuat suasana di TMP Kalibata semakin haru.

Di antara jajaran pejabat dan rombongan yang hadir, seorang pria memilih berjalan di barisan paling belakang.

Dia adalah Taufik M. Tumbelaka, putra bungsu Frits Johannes Tumbelaka atau lebih dikenal “Broer” Tumbelaka, Gubernur pertama Sulawesi Utara. F.J. Tumbelaka memang dimakamkan di TMP Kalibata setelah wafat pada 20 Agustus 1983.

Ketika Langkah Kaki Membawa Pulang Kerinduan
Sejak rombongan mendekati pusara sang ayah, mata Taufik tampak berkaca-kaca.

Ia berjalan perlahan, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk menghadapi sebuah perjumpaan yang telah lama tertunda.
Sekitar 11 tahun lamanya Taufik tidak sempat datang ke makam sang ayah. Bukan karena melupakan, tetapi karena pada masa itu ia memilih memberikan perhatian dan merawat sang ibu, N.Z. Tumbelaka-Ticoalu, yang telah lanjut usia di Manado.

Fakta mengenai hubungan keluarga F.J. Tumbelaka dan Taufik juga tercatat dalam sejumlah sumber biografis yang menyebut F.J. Tumbelaka dan Neltje Zus Ticoalu memiliki dua anak, Fajar Yahya Tumbelaka dan Taufik Tumbelaka.

Bertahun-tahun, kerinduan kepada sang ayah seakan harus disimpan lebih dahulu.

Hingga akhirnya, Jumat (18/9/2026), langkah Taufik kembali membawanya ke tempat sang ayah beristirahat.

Ketika prosesi tabur bunga dimulai, Gubernur Yulius Selvanus bersama Wakil Gubernur J. Victor Mailangkay berdiri tegap memberikan penghormatan di depan pusara F.J. “Broer” Tumbelaka.

Taufik masih berada di belakang.

Namun, keteguhan emosinya perlahan runtuh. Air mata yang sejak tadi tertahan akhirnya mengalir.

Suasana semakin mengharukan ketika Taufik diminta maju menuju pusara sang ayah.

Dengan langkah gontai, ia mendekati papan kayu yang bertuliskan nama F.J. Tumbelaka. Air mata terus membasahi pipinya.

Di hadapan pusara itu, Taufik mencium bunga yang akan ditaburkan. Setelah itu, ia bersimpuh.

Dengan tangan yang tampak gemetar, Taufik merangkul dan mencium papan salib bertuliskan nama sang ayah.

Di tengah keheningan makam, terdengar lirih permintaan maaf yang disampaikannya kepada sang ayah.

Momen tersebut membuat suasana di sekitar pusara seketika berubah. Ziarah yang awalnya merupakan agenda penghormatan terhadap para pendahulu Sulut, berubah menjadi perjumpaan emosional seorang anak dengan ayah yang telah lama dirindukannya.

Ada alasan panjang di balik tangisan Taufik hari itu.
Selama sekitar 11 tahun, ia tidak sempat mengunjungi makam sang ayah karena memilih menjaga ibunya di Manado.

Sang ibu, N.Z. Tumbelaka-Ticoalu, kemudian wafat pada Jumat, 30 Desember 2022. Ia dimakamkan pada 2 Januari 2023, bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-85.

Setelah sang ibu berpulang, kesempatan bagi Taufik untuk kembali mendatangi pusara ayahnya akhirnya terbuka.

Karena itu, ziarah bersama rombongan Pemprov Sulut pada 18 September 2026 bukan sekadar kunjungan ke sebuah makam.

Bagi Taufik, hari itu menjadi kesempatan untuk kembali menyapa sang ayah setelah lebih dari satu dekade.

Ia datang bukan hanya membawa bunga, tetapi juga membawa kenangan, kerinduan, dan sebuah perjalanan panjang dalam keluarga.

Keharuan itu tidak hanya dirasakan Taufik.

Gubernur Yulius Selvanus, Wakil Gubernur Victor Mailangkay, serta para perwira tinggi TNI dan Polri yang hadir dalam ziarah turut menyaksikan momen tersebut.

Selepas prosesi tabur bunga, Taufik yang masih larut dalam tangis kemudian diminta bergabung untuk berfoto bersama jajaran Forkopimda dan pimpinan TNI.

Di momen itulah Gubernur Yulius Selvanus memberikan respons yang sederhana, tetapi penuh makna.

Yulius menyandarkan tangannya dan merangkul erat pundak Taufik Tumbelaka.

Rangkulan itu berlangsung tepat di depan pusara F.J. “Broer” Tumbelaka.
Tidak ada pidato panjang. Tidak ada kata-kata besar.

Hanya sebuah rangkulan seorang pemimpin kepada seorang anak yang sedang berhadapan dengan kerinduan panjang kepada ayahnya.
Di tempat yang menjadi peristirahatan terakhir Gubernur pertama Sulawesi Utara itu, dua hal bertemu: penghormatan kepada sejarah daerah dan kisah personal seorang anak yang akhirnya dapat kembali menundukkan kepala di depan pusara ayahnya.

Menjaga Ingatan kepada Para Pendahulu
Ziarah ke TMP Kalibata merupakan bagian dari tradisi Pemprov Sulut menjelang peringatan hari jadi provinsi. Pada 18 September 2026, rombongan Pemprov Sulut memberikan penghormatan kepada empat mantan Gubernur Sulawesi Utara yang dimakamkan di TMP Kalibata, yakni F.J. Tumbelaka, A.A. Baramuli, G.H. Mantik dan Willy Lasut.

Agenda tersebut menjadi ruang untuk kembali mengingat perjalanan panjang pemerintahan Sulawesi Utara sekaligus menghormati para tokoh yang pernah memimpin daerah.

Tetapi bagi Taufik Tumbelaka, ziarah kali ini memiliki arti yang jauh lebih pribadi.

Setelah sekitar 11 tahun menunggu, ia akhirnya kembali berdiri di hadapan pusara sang ayah.

Tangis yang pecah di Kalibata bukan sekadar tangis kehilangan.
Ia menjadi penanda sebuah kerinduan yang akhirnya menemukan tempat untuk ditumpahkan.

Dan di antara bunga-bunga yang ditaburkan, doa yang dipanjatkan, serta penghormatan kepada para pendahulu Sulawesi Utara, sebuah rangkulan hangat Gubernur Yulius Selvanus menjadi penutup dari momen tersebut—sebuah pelukan penguatan bagi seorang anak yang akhirnya menuntaskan janji baktinya kepada sang ibu dan kembali menyapa ayahnya setelah bertahun-tahun terpisah oleh jarak dan keadaan.

(AJL)
Ads Ads
CLOSE ADS
CLOSE ADS
close