Doa Lintas Agama dan Adat Mengiringi Upaya Pemulihan Gunung Awu Sangihe Doa Lintas Agama dan Adat Mengiringi Upaya Pemulihan Gunung Awu Sangihe - Media Independen

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Doa Lintas Agama dan Adat Mengiringi Upaya Pemulihan Gunung Awu Sangihe

14 September 2026 | 18:19 WIB Last Updated 2026-09-14T10:19:35Z
Doa Lintas Agama dan Adat Mengiringi Ikhtiar Pemulihan Gunung Awu Sangihe
Doa Lintas Agama dan Adat Mengiringi Ikhtiar Pemulihan Gunung Awu Sangihe. Ist

SANGIHE, Indimanado.com – Di tengah kebakaran hutan yang masih melanda kawasan Gunung Awu, masyarakat Kabupaten Kepulauan Sangihe bersama pemerintah daerah, tokoh lintas agama, Dewan Adat Sangihe, Forkopimda, relawan dan berbagai elemen masyarakat menggelar doa bersama untuk memohon keselamatan serta pemulihan alam.

Kegiatan Doa Bersama Lintas Agama dan Adat Sangihe berlangsung di Papanuhung Santiago Tampungan Lawo, Minggu (13/09/2026). Kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian sekaligus ikhtiar bersama bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penanganan kebakaran Gunung Awu.

Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari, S.E., M.M., hadir bersama Wakil Bupati Tendris Bulahari, Ketua TP-PKK Cherry S. Thungari-Soeyoenus, S.E., Wakil Ketua TP-PKK Agnes Bulahari Walukow, S.E., unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah, pimpinan perangkat daerah, FKUB, tokoh agama, Dewan Adat, relawan, donatur dan masyarakat.

Kebakaran Meluas, Medan Jadi Tantangan
Kebakaran Gunung Awu dilaporkan bermula dari Pos 8 jalur pendakian Angges, Kecamatan Tahuna Barat, sejak 5 September 2026. Api kemudian meluas hingga Kelurahan Kolongan, Kecamatan Kendahe, serta wilayah Kecamatan Tabukan Utara.

Berdasarkan analisis data geospasial SWIR citra Sentinel-2 pada 9 September 2026, estimasi kawasan yang terbakar mencapai 587,76 hektare. Areal terdampak berada di kawasan pegunungan dengan ketinggian sekitar 600 hingga 1.030 meter di atas permukaan laut.

Bupati Michael Thungari mengatakan, kondisi medan yang berat membuat penanganan kebakaran harus dilakukan secara hati-hati. Pemerintah daerah terus memperkuat koordinasi bersama Forkopimda, camat, lurah, kepala kampung, TNI/Polri, masyarakat dan relawan untuk memantau perkembangan titik api melalui pos-pos pemantauan di wilayah terdampak.

“Ini bukan hanya persoalan pemerintah. Ini persoalan kita bersama menjadi semangat yang tercermin dalam pelaksanaan doa lintas agama dan adat tersebut,” sebutnya.

Doa Diawali Ritual Adat
Rangkaian kegiatan diawali dengan ritual adat Tatahimokoing Sembanua oleh Dewan Adat Sangihe. Setelah itu, doa dipanjatkan oleh perwakilan umat Islam, Kristen Protestan, denominasi gereja dan Katolik.

Dalam suasana penuh kebersamaan, seluruh peserta memohon agar alam segera pulih, hujan turun, serta seluruh personel, relawan dan masyarakat yang terlibat dalam penanganan kebakaran diberikan kekuatan dan keselamatan. (*/MN/Ajl)
Ads Ads
CLOSE ADS
CLOSE ADS
close